Sabtu, 01 Desember 2012

2. TEORI ILMU SOSIAL DAN REALITAS SOSIAL -ISBD


TEORI ILMU SOSIAL DAN REALITAS SOSIAL
Menyadari bahwa luasnya khasanah teori ilmu sosial di tuntut sebagai perspektif dalam pengajian ilmu sosial budaya dasar . teori ilmu sosial yang di rasakan penting untuk mengkaji realitas sosial . teori ini di sajikan secara sederhana dan ringkas sifatnya. Untuk mencapai sebuah tujuan materi ini mencoba menghubungkan berbagai paradigm ilmu sosial dengan berbagai tingkat analisis realitas sosial. Dengan usaha ini mahasiswa tidak tersesat di “rimba raya “ teori ilmu sosial maupun realitas sosialnya, minimal tahu dari hal yang spesifik menuju ke hala yang umum. Manusia sebagai realitas sosial apabila di hubungkan dengan paradigm sosial wawasannya sangat luas. Paradigma realitas sosial adalah melihat gambaran yang mendasar mengenai realitas sosial menurut kaca mata ilmu sosial. Tingkatan kenyataan itu ada empat yaitu :
1) Tingkat individual :
Tingkat ini menempatkan individu sebagai pusat perhatian untuk analisa .analisa ini di bagi menjadi dua bagian yaitu tingkat perilaku (behavioral) dan tingkat subjektif. Teori dasar dasar psikologi(sosial) yang mengkaji tingkat individu meliputi
teori stimulus-respons(S-R) ,toeri sikap,teori peran dan teori lapang (medan) teori stimulus respons ini sebenernya teori stimulus – organisme – respons (S-O-R) karena di akui adanya organisme antara stimulus dan respons. Tokoh teori ini adalah Watson yang menyatakan bahwa objektivitas perilaku individu hanya berlaku pada perilaku yang Nampak (overt). Setiap perilaku pada hakikatnya merupakan tangapan (respon) terhadap rangsang (stimulus) karena itu rangsang mempengaruhi tingkah laku atau bahkan menentukan tingkah laku.intervensi organism terhadap stimulus rangsang, individu ini memilikipotensi berupa kognisi sosial, persepsi sosial, nilai dan konsep.
Teori sikap adalah kecenderungan seseorang untuk bertingkah laku tertentu kalau menghadapi suatu rangsangan tertentu .
teori peran adalah beranggapan peranan seseorang itu merupakan hasil interaksi dari diri (self) dengan posisi (status dalam masyarakat) .dan dengan peran( menyakut norma dan nilai) dalam teori ini yang terpenting adalah actor (pelaku) dan target (sasaran) yang punya hubungan dengan actor.
Teori medan ( field-theory) adalah berangapan bahwa kehidupan merupakan penentu dari perilaku seseorang kehidupan ini merupakan hasil interaksi manusia dengan lingkungannya.
Teori yang mengkaji individu adalah psikoanalisa dari freud yang membedakan tiga sistem dalam hidup psikis yaitu id,ego, dan superego .istilah ini di kenal sebagai tiga “instansi “ yang menandai hidup psikis.
Instansi pertama Id adalah psikis yang paling dasar terdiri dari naluri naluri bawaan (seksual dan agresif) dan keinginan direpresi.pada Id yang berkuasa adalah kesenangan yang tidak mengenal waktu dan tidak mengenal hokum hokum logika.
Instansi kedua Ego adalah hasil diferensi dari Id karena kontak dengan dunia luar . Ego aktifitasnya dapat sadar,prasadar atau tidak sadar . potensi Ego di kuasai oleh prinsip realitas seperti pemikiran objektif, yang sesuai dengan tuntutan-tuntutan sosial dan rasional yang di ungkapkan melalui bahasa. Tugas dari Ego mempertahankan kepribadiannya adaptasi dengan lingkungan,menghilangkan konflik dengan realitasdan mendamaikankonflik berbagai keinginan agar selaras. Ego berfungsi sebagai penjamin kesatuan pribadi dan alat sintesa.
Instansi ketiga adalah Superego adalah potensi hasil dari proses internalisasi,sehingga menjadi miliknya berasal dari luar dirinya.
Al-Ghazali (abad ke-11) mengemukakan tentang qonflik fitrah manusia 8 abad lebih dulu dari pada teori freud psikoanalisa.yang mengemukakan bahwa manusia mempunyai tiga tahap perkembangan jiwa yaitu :
1) Nafs al amarah bil also adalah nafsu jahat yang mendesak agen normal untuk melampiaskan tuntutan yang tidalk terkontrol atau nafsu yang mengendalikan kejahatan.dalam Al Quran dinyatakan “nafsu ini selalu menyuruh kepada kejahatan” (QS,12:53)
2) Nafs al lawwamah yaitu nafsu yang sadar apabila tuntutan naluriahnya di lampiaskan atas pengaruh nafsu al amarah.Al Quran menyatakan “ dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali(dirinya sendiri) “ (QS,75:2)
3) Nafs al mutham’nah adalah nafsu yang tenang tentram merupakan kepuasan tertinggi dari jiwa. Kepuasan yang lengkap dan bebas dari semua keputusan dan penderitaan.
Kedua teori ini baik dari freud dan Al Ghazali sangatlah menarik untuk mengkaji interaksi individu dengan dirinya sendiri.
2) Tingkat antar pribadi (interpersonal) :
Tingkat ini meliputi interaksi antar individu dengan semua arti yang berhubungan dengan kerjasama, konflik, adaptasi, negoisasi komunikasi simbolis dan hal lain yang menpunyai arti hubungan.tingkatan ini banyak di pelajari ahli sosiologi (interaksionisme simbolik).
Teori ini di pelopori oleh George Herbert Mead (1863-1931) seorang professor dari Chicago.teori ini mempunyai implikasi sosial dan mempunyai cirri pemahaman khusus tentang perspektif. Teori ini muncul sebagai pandangan atas” realitas sosial” teori ini banyak memperhatikan dimensi subjektif dimana kenyataan sosialnya yang muncul dari interaksi di lihat sebagai kenyataan yang di bagun dan bersifat simbolis, inilah yang membedakan kenyataan sosial dengan kenyataan fisik objektif. Teori ini memperhatikan dinamika interaksi tatap muka, saling keberantungan yang erat antara konsep diri individu dengan kelompok kecil, negoisasi mengenai norma bersama dan peran individu , tetapi konsep pokonya di uraikan melalui pengertian “self”,”mind”,”society” dan “action”. Diri(self) adalah nyata suatau proses sebagaimana objek sosial yang lain, diri(self) sebagai objek sosial terbentuk melalui interaksi dalam keluarga .
G.H. Mead membuat tahapan tentang pengembangan diri sebagai berikut
1)      Tahap persiapan
2)      Tahap bermain
3)      Tahap permainan
4)      Tahan kelompok referen
Pikiran adalah suatu kesadaran untuk memudahkan pemahaman.
Pikiran adalah tindakan yang mengunakan simbol dengan diri ,aktivitas simbolik organism yang langsung di arahkan pada diri sendiri. Mead mengambarkannya sebagai suatu keadaan mental yang terwujud melalui pembicaraanyang merupakan respon intelegen. Blumer menyatakan, bahwa pikiran adalah aktivitas tersembunyi kesadaran. Pikiran terjadi karena adanya interaksi dengan orang lain dalam interaksi itu pikiran berproses untuk memecahkan permasalahan yang timbul dan untuk kembali menyesuaikan diri pada situasi sosial.
Si butani menenkankan bahwa Masyarakat sebagai dunia sosial yang terbentuk oleh individu yang berkomunikasi dengan simbol-simbol. Kelompok adalah tindakan sosial yang timbale balik yang berarti masing masing orang berhubungan . Blumer  mendandai bahwa kelompok sebagai suatu tindakan kerjasama. Masyarakat di artikan juga sebagai tindakan kerja sama untuk memecahkan masalah. Semua ini berarti bahwa masyarakat berpokok pada kesalingbergantungan dimana masing masing anggotanya saling membantu untuk memecahkan masalah dengan demikian masyarakat di bentuk oleh orang orang yang mampu membawakan peran lain dan mengerti tindakan tindakan.
Namun interaksionisme simbolik pun melihat bahwa seseorang di buat oleh masyarakat. Kita di lahirkan dalam kelompok dan kelompok itu tumbuh mempengaruhi kita , yang berarti individu di batasi oleh masyarakat missal bahasa dan sejarahnya atau aturan yang telah ada.
Tindakan adalah pola kelakuan yang terorganisasikan, tindakan di tandai dengan objek objek seperti tindakan objek sosial warriner menyebutkan tindakan sosial di definisikan oleh orang yang di beri nama. Realitas suatu tindakan berlangsung terus menerus suatu proses konstan yang tidak pernah berakhir kecuali kita mati.
Manusia bertindak karena ada tiga alas an pertama karena dia memerlukan untuk bertindak kedua karakteristik pribadi sikap, kepentingan, image-diri mendorongnya untuk bertindak dan ketiga faktor lingkungannya untuk bertindak. Menurut konsep mead tindakan menyangkutkan empat tingkatkan yaitu pertama gerak hati(impulse) kedua persepsi ketiga manipulasi dan yang keempat pertempuran(consummation).
Tindakan di mulai dengan aktivitas tersembunyi yang kemudian mengalir menjadi terbuka,namun tindakan yang sudah terbiasa (habitual action) lebih berhubungan dengan tindakan terbuka karena mendefinisikan situasi menganalisa masa lalu dengan masa depan.  masa lalu dan masa depan adalah bagian dari tindakan,keduanya bagian dari pendefinisian situasi. Masa depan adalah bagian dari tindakan kita memiliki rencana untukbertindak dan konsepsiti ini mempengaruhi tindakan, di samping itu masa lalu pin menjadi kekuatan yang mempengaruhi tindakan.
Membawakan peran orang lain berarti berlatih melihat dunia dari prespektif orang lain , ada empat tingkatan yang berhubungan dengan proses ini pertama adalah tingak persiapan yang menirukan orang lain, yang kedua memainkan  yakni membawakan peran orang lain, yang ketiga bermain yakni telah memasuki situasi dan yang keempat tingkat kelompok referen yakni memiliki peran yang banyak di dunia sosial yang harus di pertimbangkan dalam peran itu.
Ada beberapa poin yang harus di catat mengenai pentingnya membawakan peran orang lain :
1)      Untuk timbulnya kekuatan diri
2)      Untuk menjadi diri dalam segala situasi
3)      Untuk mempelajari prespektif mengenai hal
4)      Untuk bekerja dalam situasi sosial
5)      Untuk menolong seseorang dalam situasi interaksi melalui pengetahuan bagaimana manipulasi mengarahkan dan mengontrol.
6)      Untuk mencintai orang lain
7)      Sebagai dasar untuk kerja sama
8)      Sebagai dasar komunikasi simbolik manusia
Sebelum konsep pokok “self”, “mind”, “society” dan “action” yang di bahas interaksionisme simbolik, juga teori ini membahas interaksionisme individu,masyarakat dan pikiran.pendapatanya di kemukaan dalam lima hal yaitu ;
1)      Individu tidak konsisten pribadinya terbentuk mesti dalam suatu proses dinamik pelaku peubah tidak pernah menjadi suatu tetapi dalam keadaan menjadi individu bukan hasil dari sosialisasi,bukan merupakan perangkat yang tetap tetapi dalam keadaan berubah dalam proses interaksi
2)      Masyarakat dan kelompok tidak sebagai yang statis terpengaruh tetapi termasuk dalam proses interaksi.apa yang di sebut kelompok dalam masyarakat adalah pola yang disimpulkan dari proses interaksi
3)      Individu mempunyai suatu cirri pikiran dan diri tetapi keduanya di konsepkan sebagai proses bukan sebagai kesatuan yang statis.
4)      Manusia mempunyai banyak diri masing-masing berhubungan dan berinteraksi dalam perubahan proses interaksi
5)      Kebenaran ide ide sikap presepsi dan prespektif semuanya sebagai proses berpendapat dari perubahan yang dinamis oleh organism di dalam berhubungan dengan apa yang di selidiki.
Asumsi interaksionisme simbolik yang sederhana dikemukakan oleh blumer sebagai berikut :
1)      Manusia bertindak terhadap sesuatu yang berdasarkan makna yang ada pada sesuatu itu bagi mereka
2)      Makna tersebut berasal dari interaksi sosial seseorang dengan yang lain
3)      Makna tersebut di modifikasi melalui adanya proses penafsiran oleh indi vidu dalam keterikatanya dengan symbol yang di hadapi
Teori lain yang mengkaji masalah hubungan antara pribadi adalah teori interaksi dari simmel (1858-1918) yaitu :
1)      Manusia terbentuk dari jaringan relasi –relasi antar orang sehingga mereka merupakan suatu kesatuan.
2)      Jaringan jaringan relasi itu tidak sama sifatnya
3)      Dalam jaringan relasi tidak selamanya terbentuk integrasi dan harmonis,tetapi dapat pula terjadi kritik oposisi konflik dan lain lain.
4)      Frekuensi interaksi dan kadar interaksi bervariasi ada yang tinggi dan ada yang rendah
Jadi intinya simmel memandang masyarakat adalah produk dari proses interaksi individu individu. Teori yang mengkaji antarpribadi dalam sosiologi adalah Homans dikenal dengan teori pertukaran (exchange theory) antapribadi. Antarpribadi terjadi pertukaran karena adanya internal dan keadaan eksternal ,dasar psikologi pertukaran karena dukungan sosial dan factor penguat ,sehingga terjadi transaksi atau saling member timbale balik memperoleh keseimbangan emosional atas dasar pribadi.
Teori yang lainya adalah teori dramaturgi dari Goffman,menyatakan bahwa individu senantiasa akan mengkontrol kesan kesannya dalam hubungan sosialnya yang di berikan kepada orang lain.
3) Tingkat struktur sosial
Tingkat ini bersifat abstrak analisanya di tunjukan pada pola tindakan,jaringan interaksi yang teratur dan seragam dalam waktu dan ruang,posisi sosial dan peran sosial.tingkat ini dapat pula menyangkut institusi sosial dan masyarakat secara umum/ keseluruhan.teori ini di pelopori oleh tokoh klasik Durkheim, Mark dan tokoh modern yang melanjutkan pemikirannya,pelanjut tokoh ini adalah Parson, Merton, Cosser, Collins, Michel, dan lain lain. Tingkat ini memandang secara garis besarnya masyarakat sebagai berikut :
a)      Masyarakat sebagaimana halnya organism hidup
Kosep ini hanya metaphor dalam rangka mempermudah analisis sosiologis. Seperti pendapat  Radelife Brown bahwa struktur berupa hubungan antar individu mempunyai aktivitas berupa tingkah laku konektivitas dan mempunyai fungsi berupa pemeliharaan struktur sosial.
b)      Sistem sosial merupakan pendekatan lain untuk menganalisis masyarakat
Tetapi masih merupakan pengembangan dari teori struktur sosial Brown Malinowski dan Durkhein. Teori sistem ini merupakan teori yang di kembangkan oleh Talcott Parson sehingga mencapai puncak yang paling berpengaruh dalam sosiologi di amerika. Teori ini di kenal dengan struktur fungsional yang menganggap manusia sebagai masyarakat merupakan sistem sosial yang terdiri atas bagian bagian yang saling berkaitan dan menyatu dalam keseimbangan .kalau terjadi konflik maka perlu di perhatikan adalah bagaimana cara mendamaikannya sejauh dapat di atasi konflik itu selalu di hindari. Asumsi dasar dari pendekatan struktur fungsional adalah
  1. Masyarakat harus dilihat sebagai suatu sistem dan suatu sistem dari pada bagian bagian yang saling berhubungan stu sama lainnya
  2. Hubungan antara setiap bagian adalah bersifat saling mempengaruhi dan imbal  balik
  3. Sistem sosial cenderung bergerak kearah keseimbangan yang bersifat dinamis artinya menangapi perubahan yang dating dari luar memelihara perubahan yang terjadi agar perubahannya terjadi secara minimal,meski menyadari bahwa integrasi sosial tidak mungkin tercapai secara sempurna.
  4. Sistem sosial selau mengarah kle integrasi sosial melalui penyesuaian ketegangan dan proses instutionalisme.
  5. Perubahan sistem sosial terjadi secara gradual melalui penyesuaian ,kalau terjadi perubahan secara drastic maka yang berubah itu hanya bentuk luarnya saja sendangkan unsur unsure sosial budaya yang dasar tidak berubah.
  6. Perunahan sosial yang terjadi si sebabkan oleh upaya penyesuaian yang di lakukan oleh sistem sosial terhadap pengaruh yang dating dari luar pertumbuhan melalui proses difernsiasi structural dan fungsional dan akibat adanya penemuan baru oleh anggota masyarakat itu sendiri
  7. Daya integrasi yang paling tinggi dari suatu sistem sosial akibat adanya consensus nilai yang merupakan prinsip dan tujuan dasar dari anggota masyarakat.
Teori struktur fungsional sering di sebut teori consensus,hal ini menurut Cohen (1968) teori structural fungsional memiliki serangkaian asumsi eksklusif sebagai berikut :
1. Norma nilai dan nilai merupakan unsure unsure dasar dari
kehidupan sosial
2. kehidupan sosial melibatkan komitmen
3. suatu masyarakat memerulukan keadaan yang kohesif
4. terwujudnya suatu hidup sosial bergantung kepada solidaritas
5. suatu kehidupan sosial di dasarkan kepada resiprositas dan kerja
sama
6.suatu system sosial selalu bertahan pada consensus
7. suatu masyarakat selalu mengenal adanya otoritas legitimasi
8. sistem sosial selalu terintegrasikan
9. sistem sosial cenderung untuk bertahan lama
Masyarakat sebagai system sosial karena mempunyai persyaratan seperti : anggotanya lebih dari dua orang terjadi iteraksi di antara mereka memiliki 10 unsur penting (Loomis,1960 dan Bertand,1967) yaitu :
  1. Keyakinan (pengetahuan)
  2. Perasaan (sentiment)
  3. Cita cita atau tujuan
  4. Norma
  5. Posisi kedudukan
  6. Kekuasaan
  7. Tingkatan
  8. Sangsi
  9. Sarana
10.  Tekanan ketegangan
Ke sepuluh unsur system social ini tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya,menyatu membentuk sruktur social itu sendiri. Proses – proses utama yang terjadi di dalam system sosila tersebut dalah komunikasi memelihara tapal batas (boundary maintenance) atau mempertaankan identitasnya,perjalinan system ( kerja sama mencapai kesatuan tunggal),sosilaisasi ( proses penyerapan warisan sosiall budaya), pengembangan (pembatasan tingkah laku) dan perubahan social ( perubahan dalam pola interaksional nilai / budaya dan struktur).
Pengertian system sosila menurut Parson suatu system social akan bekerja secara normal apabila memiliki 4 kondisi dasar sebagai alternatif  atau sebagai 4 masalah yang harus diselesaikan. Dalam hal ini Pasron juga menyebutnya dengan kondisi atau kewajiabn fungsional ( functional imperatives ) atau prasyatar fungsional ( functional prerequisistes ) dan menyangkut tidak hanya organisasi tetapi juga banyak membutuhkan segi kepribadian sebagai anggota masyarakat. Keempat prasayarat fungsional sosila tersebut adalah :
  1. Adaptasi yaitu penyesuaian system terhadap tuntutan lingkungan ( kenyataan ) kondisi lingkungan, dengan memfungsikan sejumlah fasilitas fisik maupun nonfisik.
  2. Pencapaian Tujuan yaitu tujuan anggota suatu sitem sosial,merupakan hasil persetujuan dan prioritas para anggota.
  3. Integrasi merupakan tingkat solidaritas anggota system sosial, mamiliki ikatan emosional yang tidak bergantung pada segi keuntungan (pamrih). Keteraturan perlu ekstensi, masyarakat perlu menjamin koordinasi dan pengawasan di antara unsur – unsur internal di setiap system sosial.
  4. Pemeliharaan pola yaitu setiap masyarakat harus membuat anggotanya memiliki motovasi yang cukup untuk memerankan peranan yang di kehendaki dan menghasilkan komitmen paksaan terhadap nilai  – nilai masyarakat.
Untuk melihat tingkat keseimbangan dan integrasi masyarakat,Parson mengajukan konsep variabel – variabel pola ( pattern variates ) untuk mengklasifikasi atau mengkategorikan norma dan nilai setiap masyarakat. Apakah masyarakat atau individu tandensinya kea rah :
  1. Netralitas afektif
  2. Orientasi diri
  3. Partikularisme
  4. Askripsi
  5. Spesifitas
Fungsi manifest adalah sebab – sebab objektif yang membantu penyrsuaian terhadap system yang di maksud dan diketahui oleh partisipan dal;am sistem. Sedangkan fungsi laten berhubungan dengan hal yang tidaj dimaksud dan tidak diketahui,seperti factor,birokrasi dan lain – lain.
c.Masyarakat sebagai tertib sosial ( social order )
dalam keadaan normal,dapat pula terjadi perubahan atau disorganisasi sosial yang menyebabkan terjadinya bermacam – macam peristiwa seperti berikut :
  1. Konplik Norma. Norma – norma dalam masyarakat dapat terjadi konplik dengan adanya perubahan – perubahan dalam berbagai pola atau aspek lain dari kehidupan yang menyebabkan disorganisasi.
  2. Tingkat perubahan budaya waktunya tidak semua sama,tatapi terjadi”cultural lag”,yaitu tidak sama perkembangan antara budaya meteri dengan mental orang yang budaya tersebut.
  3. Peraturan ( sistem ) yang tidak baik  atau konflik antara manusian dengan lingkungannya ( fisik,soaila, ekonomi,dl)
Teori tersebut berkaitan dengan tertip sosial yang mencakup 4 macam yaitu :
1)      Teori paksa ( coercion ) yang bersaumsi bahwa “ power “ adalah sarana ampuh untuk mencapai tertib sosial. Teori ini menolak tentang realitas keanekaragaman sosial budaya.Paksaan moral kan diterima, apabila nilai – nilainya diterima. Teori ini sering digunakan dengan dalih pembangunan yang mendesak. Akibatnya sering timbul gerakan – gerakan di bawah tangan, persengkokolan kutukan, dan disorganisasi,tertib semu dan ketegangan (laten).
2)      Teori kepentinagn (Coorperation or mutual interest) ( belangen ) berasumsi bahwa masyarakat dapat tertib karena ada kesepakatan sosial dan saling percaya. Teori ini hanya efektif bagi masyarakat pedesaan yang bersifat homogen.Tujuan tertib sosial kepentingan dapat tercapai apabila ada kosensus. Dampak dari teori kepentingan ini tentunya budaya kritik,sehingga aspirasi tidak tersalurkan, yang akan menimbulkan perubahan soaila dengan mental budaya yang kurang menguntungkan misalnya apatis.
3)      Teori kesepakatan atau Kosensus berasumsi bahwa tertib sosial dapat tercapai karena manusia terikat akan norma dan nilai sehingga terjadi kosensus yang bersifat moral. Kelemahan teori ini, kosensus akan dipaksakan pada masyarakat yang bersifat pluralistic,seperti banyaknya unsure – unsure primordial.
4)      Teori Lambat (traagheis) menekan perlunya suatu kondisi yang dapat mempertahankan satus qou. Teori ini bersaumsi bahwa tertib sosial dapat dicapai dengan memperlambat perjuangan unsure pokok kehidupan melalui isu – isu kecintaan,kesetiaan dan disiplin. Teori ini akan menimbulkan perubahan pada segi – segi personalitas, seperti sikap yang mementingakan segi formal ( serba formalitas ) tetapi tidak menyelesaikan masalah.
  1.  Masyarakat sebagai sub-siratum yang melahirkan konflik.
Konflik adalah kenyataan yang melekat pada masyarakat.Adanya tertib sosial ini seperti adanya sistem nilai yang disepakati bersama, tidak secara otomatis dapat menghilangkan konflik. Bahkan merupakan cermin adanya konflik yang berisifat potensial dalam masyarakat. Kenyataan konflik ini menurut David Lockwood dapat dibuktikan sebagai berikut :
  1. Setiap struktur sosial di dalam dirinya mengandung konflik – konflik dan kontradisi – kontradisi yang bersifat internal seingga dapat merupakan sumber terjadinya perubahan sosial.
  2. Reaksi dari suatu sistem sosial terhadap perubahan yang dating dari luar tidak selalu bersifat mengatur.
  3. Sistem sosial dalam waktu yang panjang dapat mengalami konflik – konflik sosial yang bersifat melakat ( kronis ).
  4. Perubahan soaial yang terjadi dalam suatu sistem soaial tidak selamanya bersifat perlahan ( gradual ), tetapi dapat pula terjadi secara revolusioner.
Pandangn konflik tersebut di atas didasarkan atas anggapan bahwa masyarakat senantiasa selalu dalam keadaan berubah. Perubahan soasial yang terjadi dalam rangka sintesa dari teas – teas yang berkembang pada masyarakat yang bersangkutan. Prosees sintesa yang terjadi merupakan ajang terjadinya konflik. Oleh karena itu pandangan pendekatan konflik terhadap masyarakat bersumber dari anggapan dasar sebagai berikut :
1)      Perubahan sosial merupakan gejala yang melekat pada setiap masyarakat.
2)      Konflik merupakan gejala yang melekat pada setiap masyarakat.
3)      Setiap unsure masyarakat memberikan sumbangan tertentu bagi terjadinya disintegrasi dan perubahan sosial.
4)      Terjadinya integrasi masyarakat,berada pada penguasaan atau dominasi oleh sejumlah orang – orang lainnya.


Pandangan lain tentang konflik, didasarkan pada struktur masyarakatnya sehingga asumsinya berbunyi demikian :
1)      Kepentingan merupakan unsure dari kehidupan masyarakat.
2)      Kehidupan sosial melibatkan dorongan dan perlu terbagi.
3)      Kehidupan sosial melahirkan opsisi dan konflik sosial.
4)      Kehidupan sosial melahirkan kepentingan bagian – bagian.
5)      Diferensiasi sosial melibatkan kekuasaan
6)      Sistem sosial tidak terintegrasi dan ditimpa oleh kontradiksi – kontradiksi.
7)      Sistem sosial cenderung untuk berubah.
Walaupun teori konflik ini menganalogikan masyarakat dengan medan pertempuran yang tidak habis – habisnya, namun teori ini masih memberikan sumbangan bagi integrasi. Hal ini dikemukakn oleh Berge yang di kutip Ritzer (1980 ), bahwa konflik mempunyai 4 fungsi yaitu :
1)      Sebagai alat memelihara solidaritas.
2)      Membantu menciptakan ikatan analisis dengan kelompok lain
3)      MEngaktifkan peranan individu yang semula terisolasi.
4)      Sarana komunikasi dengan adanya konflik posisi masing – masing lawan yang berkonflik saling diketahui
4) Tingkat budaya
Tingkat budaya dalam hal kenyataan sosial maksudnya meliputi arti symbol, norma ,dan pandangan hidup umumnya yang dimiliki oleh suatu anggota masyarakat. Sedangkan tingkat budaya itu sendiri memiliki arti meliaht realitas sosial menurut perspektif budaya. Dan istilah Kebudayaan yaitu terdiri dari produk – produk tindakan dan interaksi manusia termasuk karya cipta manusia berupa materi atau non materi. Kebudayaan non materi adalah keseluruhan kompleks yang meliputi pengertian,kepercayaan, seni , moral , hokum, kebiasaan dan kemampuan –kemampuan dan tatcara lainnya yang diperoleh manusia sebagai seorang anggota masyarakat. Menurut Sorokin bahwa kesatuan organis dari gajala bidaya dan tingkat sosio – budaya dianalisa terpisah dari tingkah individu. Pokok pikiran analisis Sorokin maliputi :
  1. Teori kemajuan.
  2. Integrasi sosial dan budaya. Maksudnya arti,nilai,norma dan symbol merupakan kunci untuk memahami kenyataan sosia budaya. Ada saling bergantung antara pola – pola budaya, masyarakat sebagai interaksi dan kepribadian individual. Tingkat tertinggi integrasi dan sistem sosial yang paling mungkiin tercapai didasarkan atas seperangkat arti, nilai norma hokum yang secara logis dan berarti konsisten satu sama lian.
  3. Tipe – tipe mentalitas budaya. Mentalitas budaya merupakan kunci untuk memahami suatu supersistem budaya yang terintegrasi. Apakah hakikat kenyataan terakhir ? Damn jawaban logisnya adalah sebagai berikut :
    1. Kenyataan akhir itu seluruhnya terdiri dari dunia materiil yang kita alami dengan indera.
    2. Kenyataan akhir itu melampaui dunia materiil, artinya bersifat transenden tidak dapat di tangkap sepenuhnya dengan indera.
    3. Diantara kedua kenyataan ekstrim tersebut, artinya kenyataan itu mencakup dunia materiil dan transenden.
Atas dasar tersebut maka muncul pernyataan : “ Apakah kabutuhan manusia itu bersifat fisik tatu spiritual ? “ , “ SEbarapa jauh luas kebutuhan yang harus di penuhi ? “ ,” Apakah penelusuran kebutuhan – kebutuhan manusia itu harus mencakup penyesuaian diri tau penyesuaian linkungan “.
SEhinng muncullah 3 tipe mentalitas budaya :
  1. Kebudayaan Ideasional. Dasar pemikiran dari tipe ini bahwa kenyataan akhir itu bersifat nonmateriil,transenden dan tidak dapat ditangkap dengan indera. Dunia ini di liahat dari suatu ilusi, sementara dan bergantumg pada dunia transenden . Dan tingkat yang menyatakan kenyataan akhir merupakn dunia Allah yaitu :
a)      Kebudayaan Indeasional Asketik. Mentalitas ini mmerlihatkan suatu ikatan tanggung jawab untuk mengurangi sebanyak mungkin kebutuhan materiil manusia supay mudah diserap ke dalam dunia trasenden.
b)      Kebudayaan Ideasional Aktif. Mantalitas yang selian menggunakan kebutuhan inderawi juga berusaha mengubah dunia menjadi selaras dengan dunia trnsenden.
  1. Kabudayaan INderawi ( Sensate Culture ).Dasar pemikirannya dari dunia materil yang kita alami dengan indera kita merupakan satu – satunya kenyatan yang ada. Jadi, menyangkal terhadap kenyataan akhir transenden. Mentalis ini meliputi :
a. Kebudayaan Inderawi Aktif . Mentalitas ini mendorong sikap aktif dan giat untuk memenuhi kebutuhan dan materil denagn mengubah dunia fisik sehingga memperoleh kepuasan dari serangan manusia. Mentalitas ini telah mendasari Tekhnologi,kedokteran dan kemajuan ilmiah.
b.Kebudayaan INderawi Pasif. Mentalitas ini dalah hasrat untuk memperoleh kesengan hidup setinggi – tingginya. Prinsip makan,minum,dan kawin, sebab besuk akan mati. Hal ini adalah “ eksploitasi parasit”.
c. Kebudayaan Inderawi Sinis. Mentalitas ini memperlihatkan dasar usaha yang bersifat munafik menimbulkan pencapaian tujuan materialistic atau inderawi denagn menggunakan sistem nilai transenden yang sebenarnya.
  1. Kebudayaan Campuran. Dasar pemikiran nya berdasar pada kumentalitas ideasional dan mentalitas inderawi. Tipe ini terdapat  :
    1. Kebudayaan Idealistik. Mentalitasini merupakan mentalitas organis dari mentalitas ideasional dan inderawi. Kelihatan sedemikian rupa keduanya dapat dilihat sebagai pengertian yang benr dari sapek – aspek tertentu dari kenyataannya.Dari dasar pemikiran itu secara sistematis dan logiss keduanya berhububgab.
    2. Kebudayaan Ideasioanal Tiruan ( Pseudo – Ideational Cultural ). Mentalitas ini didominasi oleh pendekatan inderawi dengan unsur – unsur ideasional hidup secara berdanpingan dengan inderawi sebagai suatu perspektif yang berlawanan,TIdak terintegrasi secara sistematis hanya sekedar hidup berdampingan.
Dimensi Perubahan Kultural Meliputi hal – hal sebagai barikut :
a)      Inovasi kebudayaan seperti :
  • Penemuan
  • Peniruan
  • Peminaman alat – alat
b)      Difusi seperti penyimpanan kebudayaan dan difusi secara sadar.
c)      Integrasi seperti penolakan terhadp bentuk – bentuk baru, duplikasi , cara hidup lama dan baru bersama –sama dalam variabel pola – pola penggantian bentuk – bentuk lama dengan bentuk – bentuk baru.

1. PENGENALAN ILMU SOSIL DASAR




Pengenalan Ilmu Sosial Dasar (ISD)

Ilmu Sosial Dasar (ISD) merupakan studi analisis atas aneka fenomena sosial masyarakat dengan segala dinamika dan implikasinya dari sudut pandang kajian dasar falsafah keilmuan.

Manusia sebagai makhluk sosial tentu tidak mungkin bisa memisahkan hidupnya dengan manusia lain. Sudah bukan rahasia lagi bahwa segala bentuk kebudayaan, tatanan hidup, dan sistem kemasyarakatan terbentuk karena interaksi dan benturan kepentingan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Sejak zaman prasejarah hingga sejarah, manusia telah disibukkan dengan  terciptanya  berbagai aturan dan norma dalam kehidupan berkelompok mereka. Dalam berbagai keterciptaan itulah ilmu pengetahuan terbukti memainkan peranan signifikan.

Ilmu Sosial Dasar (ISD) membicarakan hubungan timbal balik antara manusia dengan
lingkungannya. Hubungan ini dapat diwujudkan  melalui kenyataan sosial dan kenyataan sosial inilah yang menjadi titik perhatiannya. Dengan demikian Ilmu Sosial Dasa r memberikan pengetahuan umum dan pengetahuan dasar tentang konsep -konsep yang dikembangkan untuk melengkapi gejala-gejala sosial agar daya tanggap, persepsi, dan penalaran kita dalam menghadapi lingkungan sosial  dapat ditingkatkan. Ilmu sosial bukanlah su atu bidang keahlian ilmu-ilmu sosial tertentu, seperti politik, antropologi dan sebagainya, tetapi menggunakan pengertian-pengertian  yang  berasal dari berbagai bidang ilmu sosial seperti ilmu politik, sosiologi, sejarah dan sebagainya.

llmu Sosial Dasar  bukan  merupakan gabungan dari ilmu-ilmu sosial yang dipadukan,
karena masing-masing sebagai disiplin ilmu memiliki obyek dan metode ilmiahnya sendiri-sendiri yang tidak mungkin dipadukan.

Ilmu Sosial Dasar juga bukan merupakan disiplin ilmu tersendiri, karena Ilmu Sosial Dasar tidak mempunyai obyek dan metode ilmiah tersendiri dan juga tidak mengemb angkan suatu penelitian sebagaimana suatu disiplin ilmu, seperti ilmu-ilmu sosial di atas.
Ilmu Sosial Dasar merupakan suatu bahan studi atau p rogram  pengerjaan yang khusus
dirancang untuk kepentingan pendidikan/pengajaran yang di Indonesia diberikan di Perguruan Tinggi.  Dengan kata lain,  mata kuliah Ilmu Sosial Dasar diberikan dalam rangka usaha untuk memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan guna mengkaji gejala-gejala sosial agar daya tanggap, persepsi dan penalaran mahasiswa dalam menghadapi lingkungan sosialnya dapat ditingkatkan, sehingga lebih peka terhadapnyaSebelumnya perlu diketahui bahwasanya sumber dari segala ilmu pengetahuan adalah Philoshopia (filsafat). Dari filsafat tersebut lahir 3 cabang ilmu pengetahuan, yaitu :
1.  Ilmu alamiah, yaitu  ilmu yang mempelajari tentang alam, yang berhubungan
lingkungan alam seperti fisika, kimia, biologi,  astronomi, botani dll.  Ilmu-ilmu alamiah
bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam alam semesta.
Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah. Caranya ialah dengan menentukan
hukum yang berlaku mengenai keteraturan-keteraturan itu, lalu dibuat analisis untuk
menentukan suatu kualitas.

2.  Ilmu Sosial, yaitu  ilmu yang mempelajari sosial manusia di lingkungan sekitar seperti
sosiologi, ekonomi, politik, antropologi sejarah, psikologi, geogrofi dll.  Ilmu-ilmu sosial
bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan
antara manusia. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode ilmiah sebagai pinjaman
dari ilmu-ilmu alamiah.
3.  Ilmu budaya, yaitu  ilmu yang mempelajari adat istiadat atau kebiasaan hidup manusia
di suatu wilayah seperti bahasa,  agama, kesusastraan, kesenian dll.  Ilmu budaya
bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat
manusiawi. Untuk mengkaji hal ini digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan kenyataan-kenyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.
Dalam perkembangannya,  ilmu sosial  melahirkan paham studi  sosial yang disebut ilmu
pengetahuan sosial. IPS adalah bidang studi yang merupakan paduan dari sejumlah mata
pelajaran sosial. Yang termasuk  dalam  pelajaran IPS yaitu geografi, sejarah, ekonomi,
sosiologi, antropologi dll.

Ilmu Sosial Dasar (ISD) sendiri  adalah gabungan dari disiplin ilmu sosial yang digunakan
dalam pendekatan dan pemecahan masalah sosial yang ada di lingkungan sekitar kita. ISD
memberikan dasar – dasar pengetahuan tentang konsep untuk mengkaji gejala sosial.
ISD (ISD) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) kedua -duanya mempunyai persamaan dan
perbedaan.
Adapun persamaan antara keduanya adalah :
Ø Kedua-duanya merupakan bahan studi untuk kepentingan program
Ø pendidikan/pengajaran;
Ø Keduanya bukan disiplin ilmu yang berdiri sendiri;
Ø Keduanya mempunyai materi yang terdiri dari kenyataan sosial dan   masalah sosial.
Perbedaan antara keduanya adalah :
Ø ISD diberikan di Perguruan Tinggi, sedang Ilmu Pengetahuan Sosial diberikan di
Ø Sekolah Dasar dan Sekolah Lanjutan;
Ø ISD merupakan satu mata   kuliah tunggal, sedang Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan
Ø kelompok dari sejumlah mata pelajaran (untuk sekolah lanjutan);
Ø ISD diarahkan kepada pembentukan sikap dan kepribadian, sedang Ilmu Pengetahua n
Ø Sosial diarahkan kepada pembentukan pengetahuan dan ketrampilan intelektual.
Bahan pembelajaran ISD dapat dibedakan menjadi 3 golongan yaitu :
a) Konsep sosial  dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang bertujuan untuk mempelajari masalah-masalah sosial yang dibahas dalam Ilmu Pengetahuan Sosial.
b)  Masalah sosial  yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan sosial yang memiliki suatu keterkaitan antara satu dengan yang lain.
c)  Kenyataan sosial  yang ada dalam masyarakat secara bersama-sama merupakan masalah sosial tertentu, dan dalam kenyataannya kenyataan sosial tersebut sering ditanggapi secara berbeda oleh para ahli ilmu sosial, hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan latar belakang disiplin ilmu atau sudut pandangnya.

Keanekaragaman dan konsep kesatuan sosial bertolak dari  konsep-konsep tersebut diatas, maka dapat kita pahami dan kita sadari bahwa di dalam masyarakat selalu terdapat:
Ø  Persamaaan dan perbedaan pola pemikiran dan pola tingkah laku baik secara indiv idual atau kelompok atau golongan.
Ø  Persamaan dan perbedaan kepentingan,  yang menyebabkan sering timbulnya pertentangan/konflik, kerja-sama, kesetiakawanan antar individu dan golongan.
8
2.2. Latar Belakang Ilmu Sosial Dasar
Latar belakang diberikannya mata  kuliah ISD di perguruan tinggi  yaitu banyaknya kritik yang ditujukan pada sistem pendidikan Indonesia oleh sejumlah cendekiawan, terutama sarjana pendidikan, sosial, dan kebudayaan. Mereka menganggap sistem pendidikan kita berbau kolonial, dan masih merupakan warisan sistem pendidikan Pemerintah Belanda, yaitu kelanjutan dari politik balas budi yang dianjurkan oleh  Conrad Theodhore van Deventer. Sistem ini bertujuan menghasilkan tenaga -tenaga terampil untuk menjadi "tukang -tukang" yang mengisi birokrasi mereka di bidang administrasi, perdagangan, teknik, dan keahlian lain, deng an tujuan mengeksploitasi kekayaan negara. Ternyata sekarang masih dirasakan banyaknya tenaga ahli
yang berpengetahuan keahlian khusus dan mendalam sehingga wawasannya sempit. Padahal sumbangan pemikiran dan  adanya komunikasi ilmiah antar  disiplin ilmu diperlukan dalam memecahkan berbagai masalah sosial masyarakat yang demikian kompleks.Latar belakang  lainnya, sistem pendidikan kita menjadi sesuatu yang "elite" bagi masyarakat kita sendiri, kurang akrab dengan lingkungan masyarakat,  dan  tidak mengenali
dimensi-dimensi lain di  luar disiplin keilmuannya. Perguruan tinggi seolah -olah menara gading yang banyak menghasilkan sarjana-sarjana  "tukang" yang tidak mau peka terhadap denyut kehidupan, kebutuhan, serta perkembangan masyarakat. Pendidikan tinggi  hanya  dapat menghasilkan sarjana-sarjana yang mempunyai seperangkat pengetahuan  di bidang tertentu saja.


Sedangkan tenaga ahli yang dihasilkan oleh perguruan tinggi diharapkan mempunyai tiga kemampuan, yaitu personal, akademis dan profesional.
1. Kemampuan personal
Tenaga ahli diharapkan memiliki pengetahuan sehingga menunjukkan sikap yang mencerminkan kepribadian Indonesia, mengenal dan memahami nilai agama, masyarakat, pancasila serta pandangan luas terhadap berbagai masalah masyarakat Indonesia.
2. Kemampuan akademik
Kemampuan untuk berkomunikasi secara ilmiah baik lisan maupun tulisan dan mampu berpikir logis, kritis, sistematis dan analitis. Memiliki kemampuan untuk mengedintifikasi dan merumuskan masalah yang sedang dihadapi.
3. Kemampuan profesional
Kemampuan dalam bidang profesi tenaga ahli yang bersangkutan. Dan mereka diharapkan memiliki kemampuan dan keterampilan yang tinggi dalam profesinya.

Sejalan dengan harapan di atas, Ilmu Sosial Dasar bertujuan untuk :
a.  Membantu perkembangan wawasan pemikiran dan kepribadian agar memperoleh wawasan pemikiran yang lebih luas.
b.  Memahami dan menyadari kenyataan-kenyataan sosial dan masalah-masalah yang ada di dalam masyarakat.
c.  Peka terhadap masalah-masalah sosial dan tanggap ikut serta dalam usaha-usaha menanggulanginya.
d.  Menyadari bahwa setiap masalah sosial yang timbul dalam masyarakat selalu bersifat kompleks dan kita hanya dapat mendekatinya serta mempelajarinya secara kritis dan interdisipliner.
e.  Memahami jalan pikiran para ahli dari bidang ilmu pengetahuan lain dan dapat berkomunikasi dengan mereka dalam rangka menanggulangi masalah -masalah sosial yang terjadi di dalam masyarakat.

Peran ilmu sosial dasar adalah:
Ø mempunyai pandangan tentang cara bersosialisasi dengan masyarakat dalam ruang lingkup yang lebih luas,
Ø menambah wawasan tentang hidup bermasyarakat dengan baik
Ø lebih mengerti tentang keadaan alam dan jalan pikiran manusianya,
Ø memahami ilmu sosial yang menunjang kehidupan bersosialisasi,
Ø pandangan hidup selanjutnya menjadi lebih terarah,
Ø mengetahui cara hidup sebagai mahluk sosial,
Ø lebih mencintai alam dan mengerti arti sejarah,
Ø menjadi lebih mengerti masalah yang terjadi di masyarakat dan dapat membantu menyelesaikan masalah sosial.
Ø dapat memanfaatkan ilmu-ilmu yang ada dalam ilmu sosial dasar untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat
Ø membangkitkan rasa ikut serta dalam menyelesaikan masalah sosial.
Ø memudahkan beradaptasi dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas
Ø membantu perkembangan cara pola pikir dalam menyikapi masalah

2.3. Ruang Lingkup Pembahasan Ilmu Sosial Dasar
Ada dua masalah yang dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk mene ntukan ruang lingkup pembahasan mata kuliah ilmu sosial dasar, yaitu :
a.  Ada berbagai aspek pada kenyataan yang merupakan suatu masalah sosial.
Biasanya, masalah sosial dapat ditangggapi dengan pendekataan yang berbeda -beda  oleh bidang-  bidang pengetahuan  keahlian yang berbeda-beda pula, baik
sebagai pendekatan tersendiri, mapupun gabungan (antar bidang).
b.  Adanya berbagai golongan dan kesatuan sosial dalam masyarakat yang masing -masing mempunyai kepentingan kebutuhan serta pola-pola pemikiran dan pola-pola tingkah laku sendiri, tetapi memilki banyak persamaan kepentingan kebutuhan serta persamaaan dalam  pola-pola pemikran dan tingkah laku yang menyebabkanadanya pertentangan maupun hubungan-hubungan setia kawan dan kerja sama dalam masyarakat itu.
ISD meliputi dua kelompok utama;  studi manusia dan masyarakat  dan  studi lembaga-lembaga  sosial.  Kelompok yang  pertama  terdiri atas psikologi, sosiologi, dan antropologi, sedang kelompok yang kedua terdiri atas ekonomi dan politik.
Sasaran  studi  ISD adalah aspek-aspek  yang  paling dasar  yang  ada dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial dan masalah-masalah yang terwujud dari padanya.Materi  pembahasan dalam  ISD terdiri atas masalah-masalah sosial. Untuk dapat menelaah masalah-masalah sosial, hendaknya terlebih dahulu kita dapat mengindentifikasi kenyataan-kenyataan sosial dan memahami sejumlah konsep sosial tert entu. Sehingga dengan
demikian bahan pelajaran ISD dapat dibedakan ke dalam tiga pembahasan yaitu,Kenyataan-kenyataan sosial  yang ada dalam masyarakat, yang secara bersama -sama merupakan masalah sosial tertentu.


Kenyataan-kenyataan sosial tersebut sering  ditanggapi secara berbeda oleh para ahli ilmu-ilmu sosial, karena adanya perbedaan latar belakang disiplin ilmu atau sudut pandangannya. Dalam ISD kita menggunakan pendekatan interdisiplin/multidisiplin.

 Konsep-konsep sosial  atau pengertian-pengertian tentang kenyataan-kenyataan sosial yang  dibatasi pada konsep dasar atau elementer saja yang sangat diperlukan untuk mempelajari masalah-masalah sosial yang dibahas dalam Ilmu Pengetahuan sosial.

Sebagai contoh dari konsep dasar semacam itu misalnya konsep “keanekaragaman” dan kosep “Kesatuan sosial”. Bertolak dari kedua konsep tersebut di atas, maka dapat kita pahami dan sadari bahwa di dalam masyarakat selalu terdapat :
a.  Persamaan dan perbedaan pola pemikiran dan pola tingkah laku, baik secara individual maupun kelompok/golongan
b.  Persamaan dan perbedaan kepentingan. Persamaan dan perbedaan itulah yang menyebabkan sering timbulnya pertentangan/konflik, kerjasama, dan
kesetiakawanan antar individu/golongan.

 Masalah-masalah sosial  yang timbul dalam masyarakat, biasanya terlibat dalam berbagai kenyataan-kenyataan sosial yang antara satu dengan lainnya saling berkaitan.Konsorsium Antar Bidang telah menetapkan bahwa perkuliahan ISD terdiri dari 8 (delapan) pokok bahasan. Dari kedelapan Pokok Bahasan tersebut maka ruang  lingkup perkuliahan ISD diharapkan mempelajari dan memahami adanya :
1. Berbagai masalah kependudukan dalam hubungannya dengan    perkembangan masyarakat dan kebudayaan.
2.   Masalah individu, keluarga dan masyarakat.
3.   Masalah pemuda dan sosialisasi.
4.   Masalah hubungan antara warga negara dan negara.
5.   Masalah pelapisan sosial dan kesamaan derajat.
6.   Masalah masyarakat perkotaan dan masyarakat pedesaan.
7.   Masalah pertentangan-pertentangan sosial dan integrasi.
8.   Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kemakmuran dan kesejahteraanmasyarakat.




2.4. Masalah Sosial
Dalam kehidupan manusia yang berstatus sebagai makhluk sosial, manusia selalu dihadapkan pada berbagai masalah sosial. Masalah sosial pada hakikatnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia karena masalah sosial telah terwujud sebagai hasil kebudayaan manusia itu sendiri, sebagai akibat dari hubungan -hubungannya dengan sesama manusia lainnya.

Masalah-masalah sosial pada setiap masyarakat berbeda satu sama lain karena adanya tingkat perkembangan kebudayaan dan masyarakatnya yang berbeda serta lingkungan alamnya. Masalah-masalah tersebut terwujud sebagai: masalah sosial, masalah moral, masalah politik, masalah agama dan masalah lainnya. Yang membedakan masalah sosial dari masalah lainnya adalah masalah sosial selalu berkaitan dengan nilai-nilai moral dan pranata sosial, serta selalu berkaitan dengan hubungan manusia dan dengan konteks-konteks normatif tempat hubungan manusia terwujud.Dengan demikian, suatu  masalah sosial terutama ditekankan pada adanya kondisi atau keadaan tertentu dalam kehidupan sosial warga masyarakat yang bersangkutan. Kondisi atau keadaan sosial tertentu sebenarnya merupakan hasil dari proses kehidupan manusia yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya, kebutuhan-kebutuhan sosial dan kebutuhan-kebutuhan kejiwaan. Dalam usaha untuk pemenuhan kebutuhan tersebut,  manusia menggunakan kebudayaan sebagai model petunjuk dalam memanfaatkan lingkungan alam dan sosial masyarakat.

Membahas  tentang ISD, sama halnya kita membahas masalah sosial, karena dengan adanya ISD sebagai bekal pembelajaran, dapat menyelesaikan masalah -masalah sosial. Menurut Soerjono Soekanto,  masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang  dapat  membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan antar  unsur-unsur yang ada  maka  dapat menimbulkan gangguan hubungan
sosial, seperti kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki kewen angan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah masyarakat, dan lain sebagainya.

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi empat jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
Masalah-masalah sosial muncul sejak adanya peradaban manusia, karena dianggap sebagai sesuatu yang menganggu kesejahteraan hidup. Hal itu merangsang masyarakat untuk mengidentifikasi, menganalisa, memahami dan memikirkan cara untuk mengatasinya. Sebelum kemunculan  ahli-ahli ilmu sosial masyarakat, pihak  yang peka terhadap masalah sosial  adalah
ahli filsafat, pemuka agama, ahli politik dan kenegaraan.Di  samping itu berbagai disiplin ilmu tergolong dalam ilmu -ilmu sosial seperti antropologi,
sosiologi, politik, psikologi sosial, komunikasi menjadikan masalah sosial sebagai ruang lingkup studi,  tetapi pusat studinya bukanlah pada masalah sosial  namun pada usaha memahami hakikat manusia menurut perspektif masing-masing  disiplin ilmu tersebut. Sedangkan masalah sosial dipandang sebagai akibat dari proses perubahan sosial dan kebudayaan.

Sejumlah ahli ilmu sosial seperti Merton dan Nizbet (1961) Denzin (1973), Gerson (1969) dan Brodly (1976) merasakan bahwa dengan menggunakan pendekatan masalah -masalah sosial sebagai kerangkanya maka hakikat masyarakat dan kebudayaan manusia akan lebih dapat dipahami. Begitu juga berbagai pemikiran yang secara masuk akal dapat dipertanggung jawabkan yang berkenaan dengan usaha -usaha untuk memperbaiki masalah-masalah sosial tersebut akan lebih dapat dikembangkan.

Pengertian masalah sosial  menurut masyarakat adalah  segala sesuatu yang menyangkut kepentingan umum adalah masalah sosial. Menurut para ahli,  masalah sosial  adalah suatu kondisi atau perkembangan dalam masyarakat yang berdasarkan atas studi   serta  mempunyai sifat yang dapat menimbulkan kekacauan terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Contoh: pedagang kaki lima menurut definisi umum bukanlah masalah sosial karena merupakan upaya mencari nafkah, dan pelayanan warga pada taraf hidup tertentu. Tetapi bagi perencana kota merupakan sumber kekacauan lalu lintas dan peluang kejahatan. Dengan demikian suatu masalah bisa digolongkan sebagai masalah sosial oleh ahli belum tentu dianggap masalah sosial oleh umum. Sebaliknya ada juga masalah yang dianggap masalah
sosial oleh umum tetapi tidak oleh ahli. 

Batasan mengenai masalah sosial ditegaskan oleh Leslie (1974) yang mendefinisikan bahwa masalah sosial sebagai suatu kondisi yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan sebagian warga masyarakat sebagai sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak disukai, dan karenanya dirasakan perlu untuk diatasi atau diperbaiki.Berdasarkan pengertian di atas, pengertian masalah sosial ini terutama ditekankan pada adanya kondisi atau keadaan tertentu dalam kehidupan sosial warga masyarakat yang bersangkutan. Kondisi atau keadaan  sosial tertentu tersebut sebenarnya merupakan hasil dari proses kehidupan manusia yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan jasmaniahnya (misalnya manusia harus makan, minum, buang air, bernapas, mengadakan hubungan seksual, dan sebagainya),kebutuhan-kebutuhan sosial (berhubungan dengan orang lain, membutuhkan bantuan orang lain untuk mencegah berbagai masalah, dan sebagainya), dan kebutuhan -kebutuhan kejiwaan (butuh merasakan aman dan tenteram, cinta kasih dan sayang, dan
sebagainya).Dalam usaha untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, manusia menggunakan kebudayaan sebagai model petunjuk dalam berinteraksi dengan lingkungan alam dan sosial di masyarakat. Perwujudan ini merupakan perwujudan suatu kondisi di mana manusia itu hidup di dalam masyarakat. Kondisi tersebut bukan sesuatu yang tetap, tetapi selalu dalam proses perubahan.

ISD menyajikan pemahaman mengenai hakikat manusia sebagai makhluk sosial dan masalahnya dengan menggunakan kerangka pendekatan. Dengan menggunakan kacamata obyektif berarti, konsep dan teori yang berhubungan dengan hakikat manusia dan masalahnya telah dikembangkan dalam ilmu sosial dan digunakan. Sedangkan menurut kacamata subyektif
masalah yang dibahas akan dikaji menurut perspektif masyarakat yang bersangkutan.

Diharapkan dengan gabungan  kacamata obyektif dan subyektif ini, akan mewujudkan adanya kepekaan mengenai masalah-masalah sosial yang disertai dengan penuh rasa tanggung jawab dalam kedudukannya sebagai warga masyarakat ilmiah, warga masyarakat dan negara Indonesia.





DAFTAR PUSTAKA

Mawardi, Drs., Ir. Nur Hidayati, IAD-ISD-IBD untuk UIN, STAIN, PTAIS, Pustaka Setia, Bandung, 2009.
http://khabibmuafi.blogspot.com